Gas Bumi

Pemanfaatan Gas Bumi Domestik Melalui Kilang Mini LNG di Pasuruan

Pemanfaatan Gas Bumi Domestik Melalui Kilang Mini LNG di Pasuruan
Pemanfaatan Gas Bumi Domestik Melalui Kilang Mini LNG di Pasuruan

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia semakin fokus pada pengembangan sektor energi domestik, salah satunya dengan mengoperasikan kilang mini LNG (Liquefied Natural Gas) pertama di Pulau Jawa. 

Kilang ini berlokasi di Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Jawa Timur. Langkah ini bertujuan untuk memperluas pemanfaatan gas bumi domestik, terutama bagi kebutuhan industri, pembangkit listrik, dan sektor ekonomi lainnya.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot, dalam keterangannya menyatakan bahwa fasilitas ini merupakan simbol penting dalam mengoptimalkan penggunaan gas bumi produksi dalam negeri. 

Ia menjelaskan bahwa gas yang diproduksi akan dicairkan menjadi LNG dalam skala mini, memberikan fleksibilitas tinggi dalam penyaluran kepada sektor industri dan ketenagalistrikan.

Strategi Pemanfaatan Gas Bumi Domestik untuk Ketahanan Energi

Pembangunan kilang mini LNG ini memiliki misi besar, yakni meningkatkan ketahanan energi nasional Indonesia. Yuliot menekankan bahwa, meski baru pertama kali di Pulau Jawa, teknologi ini dapat dikembangkan lebih luas ke seluruh Indonesia. "Kami berharap fasilitas ini tidak hanya menjadi yang pertama, tetapi juga menjadi contoh bagi wilayah lain dalam mengembangkan pemanfaatan gas alam," ujar Yuliot.
Pengolahan gas menjadi LNG di kilang mini ini juga memberikan kemudahan dalam distribusi, mengingat sifat gas yang lebih efisien dan mudah dipindahkan dalam bentuk cair.

Kilang mini LNG yang dioperasikan oleh PT Liquid Nusantara Gas ini memanfaatkan gas yang berasal dari Wilayah Kerja Minyak dan Gas Madura Strait. Gas bumi ini kemudian diproses menjadi LNG untuk memenuhi kebutuhan energi berbagai kawasan industri, pembangkit listrik, serta pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

Inovasi Teknologi dan Pencapaian TKDN Tinggi dalam Pengembangan Mini LNG

Salah satu aspek yang membedakan proyek kilang mini LNG ini adalah tingginya tingkat kandungan komponen dalam negeri (TKDN), yang mencapai sekitar 86%. 

Capaian ini jauh melebihi standar yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, yakni sekitar 30-40%. Keberhasilan ini menunjukkan adanya kolaborasi teknologi yang baik antara Indonesia dengan Galileo Technologies, perusahaan teknologi asal Argentina yang turut berperan dalam pengembangan fasilitas ini.

Teknologi yang digunakan dalam kilang mini LNG ini adalah nano LNG liquefaction, yang memungkinkan proses pencairan gas menjadi LNG dilakukan secara cepat. Fasilitas ini dilengkapi dengan mesin cryobox, yang memiliki kemampuan untuk memproduksi LNG dalam waktu singkat. Proses pengoperasian cryobox sangat cepat; mesin dapat mulai memproduksi LNG dalam waktu sekitar lima menit dan mencapai kapasitas penuh dalam 10 menit.

Direktur Utama PT Liquid Nusantara Gas, Wira Rahardja, menyatakan bahwa penggunaan cryobox ini sangat tepat untuk mini LNG, karena selain mudah dipindahkan, instalasi dan operasionalnya juga sangat cepat. Fasilitas ini sangat cocok untuk dipasang di lokasi industri atau pelabuhan kecil yang tidak memerlukan infrastruktur besar.

Proyek Kilang Mini LNG sebagai Langkah Kongkret dalam Memperkuat Ketahanan Energi Indonesia

Kilang mini LNG ini tidak hanya sebuah fasilitas baru, tetapi juga merupakan langkah nyata dalam meningkatkan ketahanan energi Indonesia. Proyek ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang bergerak menuju pemanfaatan energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan, dengan pilihan bahan bakar yang lebih bersih, seperti LNG.

Menurut Duta Besar Argentina untuk Indonesia, Gustavo Ricardo Coppa, proyek ini juga berperan dalam mengembangkan infrastruktur modern di wilayah kepulauan Indonesia. "Proyek ini bukan hanya soal menghadirkan fasilitas baru, tetapi juga tentang memperluas pilihan bahan bakar bersih dan memodernisasi infrastruktur energi di Indonesia," kata Coppa.

Dengan investasi sekitar Rp247 miliar, kilang mini LNG ini diharapkan bisa beroperasi dengan kapasitas produksi sekitar 20 ton LNG per hari, yang setara dengan hampir 7.000 ton per tahun. Proyek ini juga mencatatkan keberhasilan dalam mendukung ekonomi lokal, dengan menggunakan teknologi dan komponen dari dalam negeri.

Ke depan, kilang mini LNG ini tidak hanya akan memenuhi kebutuhan energi di Jawa Timur, tetapi juga berpotensi mendistribusikan LNG ke berbagai wilayah di Indonesia yang membutuhkan pasokan energi stabil dan efisien.

Potensi Pengembangan Lebih Lanjut dalam Sektor Energi Nasional

Kilang mini LNG ini merupakan salah satu contoh dari upaya besar Indonesia untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya energi yang ada di dalam negeri. Selain itu, proyek ini juga membuka peluang untuk pengembangan teknologi dan infrastruktur energi yang lebih berkelanjutan.
Pemanfaatan LNG mini diharapkan menjadi langkah awal dalam pengembangan berbagai fasilitas serupa di daerah-daerah lain yang memiliki potensi besar untuk memanfaatkan gas alam sebagai sumber energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. 

Pemerintah dan sektor industri akan terus bekerja sama untuk memastikan pengembangan energi domestik yang lebih efisien dan berkelanjutan di masa depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index